Masih ingatkah saat kita masih kecil, kita merengek – rengek minta mainan sama orang tua kita agar dibelikan mainan, namun begitu dibelikan apa yang terjadi? Kita senang sebentar begitu melihat mainan lain kita merengek – rengek lagi…. Sikap seperti ini masih berlanjut sampai saat kita menginjak usia sekolah bahkan sampai dewasa, orang tua dan sampai tuaSeperti kita merindukan hujan di musim kemarau panjang. Begitu hujan turun kita merindukan panas matahari. Saat menganggur belum meiliki pekerjaan kita bedoa sungguh – sungguh agar mendapat pekerjaan. Begitu sudah memiliki pekerjaan kita meminta lagi kepada Tuhan jabatan dan posisi.  Begitulah manusia selalu meminta ini dan itu yang tak pernah habis. Karena selama manusia hidup itu menusia masih bernafsu untuk memiliki lebih dari apa yang mereka miliki seperti dalam hadist “ niscaya jika manusia sudah memperoleh emas satu jurang maka dia akan menginginkan memiliki dua jurang”.Namun manusia itu sering lupa. Kadang kala kita baru merasakan besarnya sebuah nikmat justru setelah nikmat itu dicabut. Banyak orang merasakan nikmat sehat setelah dia jatuh sakit. Seorang baru merasakan besarnya nikmat kehidupan justru setelah berada di ambang kematian. Seorang baru merasakan nikamat kaya justru setelah ia jatuh miskin. Seorang merasakan nikmat kelonggaran setelah mengalami kesempitan. Ingatlah nikmat 5 sebelum 5 yang lain datang “ingat sehatmu sebelum sakitmu. Ingat kayamu sebelum miskinmu, ingat longgarmu sebelum sempitmu, ingat mudamu sebelum tuamu, Hidupmu sebelum datang kematianmuMemang sedikit sekali manusia yang mau bersukur seperti dicantumkan dalam firman Allah :“dan sedikit sekali dari hamba – hambaku yang bersyukur” surat as saba 13. Maka pandai – pandailah mensyukuri nikmat di dunia ini sekecil apapun dan jangan sekali kali kufur atas semua nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita sebab Alloh telah berfirman : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari makan sesungguhnya azdabku sangat pedih”.Kenapa kita tidak bersyukur? Alloh berfirman “Maka dengan nikmat Tuhan kalian yang manakah yang bisa kalian dustakan?’surat Ar rahman : 16’. Ketika membacanya bagaimana perasaan anda? Banyak kekurangan dalam diri kita ini dalam masalah syukur. Dan sangat mengkhawatirkan jika kita sampai termasuk golongan orang yang mendustakan nikmat Alloh-kurang bersyukur kepada Alloh. Sebagai sorang yang beriman yang telah diberi petunjuk Alloh seharusnya bisa lebih banyak bersyukur menyikapi semua hal yang terjadi. Karena sesungguhnya dalam hidup bahagia atau tidak tergantung dari kita memandangnya dan mensyukurinya. Jika yang kita lihat adalah kekurangan dan kekecewaan maka  hal – hal seperti itulah yang akan kita lihat sepanjang hidup padahal ada begitu banyak nikmat dan anugerah yang diberikan Alloh kepada kita karena sudut pandang sangat berpengaruh terhadap cara bagainmana kita bersyukur.Oleh karena itu marilah kita mengajak diri kita sendiri untuk belajar menikmati dan mensyukuri apapun yang menimpa kita seperti kita menikmati pergantian siang dan malam.Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah  (menyatakan lega, senang, dan sebagainya).

Pengertian   kebahasaan   ini  tidak  sepenuhnya  sama  dengan pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.

Dalam   Al-Quran   kata  “syukur”  dengan  berbagai  bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat  kali.  Ahmad  Ibnu  Faris dalam  bukunya  Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu,

  1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.
  2. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.
  3. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
  4. Pernikahan, atau alat kelamin.

Agaknya kedua makna  terakhir  ini  dapat  dikembalikan  dasar pengertiannya  kepada  kedua  makna  terdahulu.  Makna  ketiga sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan yang  sedikit  sekalipun,  sedang  makna  keempat dengan makna kedua,  karena  dengan   pernikahan   (alat   kelamin)   dapat melahirkan banyak anak. Makna-makna   dasar  tersebut  dapat  juga  diartikan  sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata “syukur”  mengisyaratkan “Siapa  yang  merasa  puas  dengan  yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur.” Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa  Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur”  mengandung  arti  “gambaran  dalam  benak tentang  nikmat  dan  menampakkannya  ke  permukaan.” Kata ini –tulis Ar-Raghib– menurut sementara ulama berasal dari  kata “syakara”  yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah  satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. Makna  yang  dikemukakan  pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur  dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. Demikian juga dengan  redaksi  pengakuan  Nabi  Sulaiman  yang diabadikan Al-Quran:

Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40). Hakikat  syukur  adalah  “menampakkan  nikmat,”  dan   hakikat kekufuran  adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki  oleh  pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah:

Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).

Nabi Muhammad Saw. pun bersabda, Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah,

“Bersyukurlah kepada-Ku  dan  janganlah  kamu  mengingkari  (nikmat)-Ku” (QS

Al-Baqarah [2]: 152),

menjelaskan bahwa  ayat  ini  mengandung perintah  untuk  mengingat  Tuhan  tanpa  melupakannya,  patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan.  Syukur  orang demikian  lahir  dari  keikhlasan  kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa,

“Demi  kemuliaan-Mu,  Aku  akan menyesatkan  mereka  manusia)  semuanya”  (QS  Shad [38]: 82),

dilanjutkan dengan pernyataan  pengecualian,  yaitu,  “kecuali hamba-hamba-Mu  yang mukhlash di antara mereka” (QS Shad [38]: 83).

Dalam QS Al-A’raf (7): 17 Iblis menyatakan,  “Dan  Engkau tidak   akan   menemukan   kebanyakan  dari  mereka {manusia) bersyukur.

” Kalimat “tidak  akan  menemukan”  di  sini  serupa maknanya  dengan  pengecualian  di  atas, sehingga itu berarti  bahwa  orang-orang  yang  bersyukur  adalah  orang-orang  yang mukhlish (tulus hatinya).

Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:

  1. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah.
  2. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.
  3. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian  banyak  aspek.

Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.

SIAPA YANG HARUS DISYUKURI

Pada  pada nsipnya  segala  bentuk  kesyukuran  harus  ditujukan kepada  Allah  Swt.  Al-Quran  memerintahkan  umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya, Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.”

Namun demikian, walaupun  kesyukuran  harus  ditujukan  kepada Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah “alhamdulillah” dalam arti “segala puji (hanya) tertuju kepada  Allah,”  namun ini  bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang tua (yang menjadi perantara  kehadiran  kita  di  pentas dunia  ini.)  Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu

dengan firman-Nya: Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu

bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu. Walaupun  Al-Quran  hanya  menyebut  kedua  orangtua  –selain Allah–  yang  harus  disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak boleh disyukuri.

Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu riwayat yang disandarkan kepada Rasul Saw).

MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur  kembali kepada  orang  yang  bersyukur,  sedang Allah Swt. sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak  membutuhkan  sedikit  pun  dari syukur makhluk-Nya. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka

sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha mulia (QS An-Naml [27]: 40)

Karena  itu  pula,  manusia  yang   meneladani   Tuhan   dalam sifat-sifat-Nya,  dan  mencapai peringkat terpuji, adalah yang memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang  diberi)  atauucapan terima kasih. Al-Quran  melukiskan  bagaimana satu keluarga

(menurut riwayat adalah  Ali  bin  Abi  Thalib  dan  istrinya  Fathimah   putri Rasulullah  Saw.)  memberikan  makanan  yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga  orang  yang membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa, Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).

Walaupun manfaat  syukur  tidak  sedikit  pun  tertuju  kepada Allah,  namun  karena  kemurahan-Nya,  Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan  Syakiran Alima  (QS  An-Nisa’  [4]:  147),  yang keduanya berarti, Maha Bersyukur  lagi  Maha  Mengetahui,  dalam  arti   Allah   akan menganugerahkan  tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain  dijelaskan  oleh firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.

BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?

Di atas telah dijelaskan bahwa  ada  tiga  sisi  dari  syukur, yaitu  dengan  hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.

  1. Syukur dengan hati Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati  mengantar  manusia  untuk menerima  anugerah  dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini  juga mengharuskan  yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian kepada-Nya.   Qarun   yang  mengingkari  keberhasilannya  atas bantuan  Ilahi,  dan   menegaskan   bahwa   itu   diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagaikafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya  (Baca  kisahnya  dalam surat Al-Qashash (28): 76-82). Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi  karena  terbayang  olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain  yang  dapat  terjadi.  Dari sini syukur –seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip di atas– diartikan  oleh  orang yang  bersyukur  dengan  “untung”  (merasa  lega,  karena yang dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi). Dari kesadaran tentang makna-makna  di  atas,  seseorang  akan tersungkur  sujud  untuk  menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah. Sujud syukur adalah perwujudan dari  kesyukuran  dengan  hati, yang  dilakukan  saat  hati dan pikiran menyadari betapa besar nikmat yang dianugerahkan Allah.  Bahkan  sujud  syukur  dapat dilakukan   saat   melihat   penderitaan   orang  lain  dengan membandingkan keadaannya  dengan  keadaan  orang  yang  sujud. (Tentu  saja  sujud  tersebut  tidak  dilakukan  dihadapan  si penderita itu). Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua  anggota  sujud di  lantai  yakni  dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki)–seperti melakukan sujud dalam  shalat. Hanya  saja  sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu  bukan  bagian dan  shalat,  maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan sewaktu-waktu  dan  secara  spontanitas.  Namun  tentunya akan sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.
  2. Syukur dengan lidah. Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.

Cerita Bersyukur

Ketika memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.” Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Supirnya menjawab, “Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan”. Jawaban singkat ini tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

  1. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang. Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya.
  2. Kedua, yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam,”Lulu, Lulu.” Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.” ( Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi )

Tahukah Anda bahwa ada komponen penting dari kebahagiaan yang sering diabaikan? Secara ilmiah, bersyukur secara teratur justru dapat meningkatkan kebahagiaan sebanyak 25 persen, demikianlah salah satu hasil studi yang dilakukan Robert A. Emmons, Ph.D., dari University of California.

Robert Emmons yang juga editor-in-chief of the Journal of Positive Psychology mengungkap rahasia apa arti penting harus merasa bersyukur.

Hasilnya menunjukkan, banyak bersyukur dan berpikir positif justru dapat membawa pengaruh baik bagi kesehatan, mood, hingga hubungan dengan pasangan.

Dalam studinya, ia mengamati hubungan antara kebahagiaan dengan kondisi kesehatan seseorang. Dalam riset ini, tim peneliti meminta para respondennya untuk mengisi buku harian selama 10 minggu. Buku harian ini berisi lima hal yang mereka syukuri yang terjadi minggu lalu. Hasilnya, para responden terbukti 25 persen lebih bahagia dari sebelumnya. Mereka juga menunjukkan kondisi tubuh yang lebih bugar ketimbang orang-orang yang kurang bersyukur atas apa yang dialaminya.

“Riset ini menunjukkan bahwa rasa bersyukur dapat membawa efek yang luar biasa dari segi fisik dan psiko-sosial,” tutur Rita Justice dari University of Texas Health Science Center, seperti dikutip Huffington Post.

“Praktik menulis harian syukur dan praktek-praktek lainnya sering tampak begitu sederhana dan mendasar; dalam studi kami, kita sering memiliki orang-orang menyimpan catatan harian rasa syukur sekitar tiga minggu. Namun hasilnya sudah luar biasa. Kami telah mempelajari lebih dari seribu orang, dari usia 8 – 80 tahun, dan menemukan bahwa orang yang berlatih dengan konsisten perasaan rasa syukur dilaporkan banyak membawa manfaat,” tulis Robert A. Emmons dalam artikelnya yang dimuat di http://www.dailygood.org.

Menurut Emmons, tiga kekuatan sebagai bagian dampak rasa syukur pada tiap orang. Pertama dampak fisik, psikologi dan sosial.

Secara fisik, orang yang banyak bersyukur akan memiliki; sistem kekebalan tubuh yang kuat, kurang terganggu oleh sakit dan nyeri, dapat menurunkan tekanan darah, dan tidur bisa lebih lama dan merasa lebih segar setelah bangun.

Sedang secara psikologis, orang yang banyak bersyukur memiliki tinggi tingkat emosi positifnya, lebih waspada, hidup, dan terjaga, lebih bersukacita dan senang juga lebih optimis dan mudah bahagia.

Secara sosial; ia lebih mudah membantu, murah hati, dan penuh kasih pada orang lain dan sedikit memiliki rasa kurang kesepian dan terisolasi.

Menurut Emmons, ada dua komponen sebagai dampak rasa syukur. Pertama, merupakan penegasan dari kebaikan. Kedua, dengan syukur bisa mencari tahu dari mana kebaikan datang.“Ini tidak berarti bahwa kehidupan sempurna, tetapi tidak mengabaikan keluhan, beban, dan kerepotan. Tetapi ketika kita melihat kehidupan secara keseluruhan, syukur mendorong kita untuk mengidentifikasi beberapa jumlah kebaikan dalam hidup kita.”Sebelumnya, tahun 2008, studi 2008 yang dilakukan psikolog Alex Wood yang ditulis dalam Journal of Research in Personality, menunjukkan rasa terima kasih dan stukur dapat mengurangi frekuensi dan durasi episode depresi. Sedang penelitian yang dilakukan Michael McCullough dan Jo-Ann Tsang telah menyarankan bahwa orang yang memiliki tingkat rasa syukur memiliki tingkat rendah menyangkut perasaan benci dan iri hati.“Ini masuk akal. Anda tidak bisa merasa iri dan bersyukur pada saat yang sama. Mereka perasaan yang tidak kompatibel. Jika Anda bersyukur, Anda tidak dapat membenci seseorang untuk memiliki sesuatu yang Anda tidak miliki,” ujar Emmons.Sebelum penelitian ini, Allah SWT telah memberikan janjinya bagi orang-orang yang benyak bersyukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim: 7)

Bersyukurlah !Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki sgl sesuatu yg kamu inginkan..Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu..Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit..Di masa itulah kamu tumbuh…

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu…Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang …

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru…Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu …

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat…Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga…

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih…Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan …

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik…

Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut…

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …

Download Hadits Digital……………………….……….…….…….Klik Disini

Download Al-Qur’an Digital………………….…….………………Klik Disini

Membuka Password Download : triagung86

LAYANAN INFORMASI KESEHATAN DAN BISNIS ONLINE 

INFORMASI KESEHATAN KLIK LINK DI BAWAH INI :

  1. Panduan Cara Cepat Untuk Hamil
  2. Panduan Tes Psikologi No.1 Di Indonesia

INFORMASI BISNIS ONLINE KLIK LINK DI BAWAH INI :

  1. Jurus Cerdas Berinvestasi Berkebun Emas
  2. Cara Cerdas Beli Properti Tanpa Modal Sendiri
  3. Cara Cepat Membuat Blog WordPress Untuk Pemula
  4. Cara Cepat Membuat Website
  5. Affiliate Site Blueprint Home Study Course
  6. Rahasia Mendapatkan Keuntungan Dari Forex Trader
  7. Rahasia Mengeruk Dollar Amazon dan Google Adsense
  8. Memulai Bisnis Online Dengan Modal Kecil

MEMBUKA PASSWORD Memulai Bisnis Online Dengan Modal Kecil 

Copy paste : triagung86

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s